Tidak bisa dipungkiri, semua wanita mengidamankan wajah mulus dan badan langsing. Oleh karena itu segala macam perawatan wajah dan tubuh pun dicoba dan wanita tak ada habisnya-habisnya mencari info seputar itu, mencoba perwatan mulai yang dari harga kantong saku celana hingga seharga jetset sehingga harus menguras tabungan. Does it work? Mungkin ada yang bekerja dengan baik tapi tidak sedikit yang gagal.
Well, ini pengalaman pribadi aja. Untuk perawatan jerawat misalnya, rasanya penulis sudah mencoba berbagai macam obat, mulai dari masker berbahan natural, perawatan di klinik kecantikan, berobat ke dokter kulit sampai minum obat-obatan kimia yang katanya bisa menyembuhkan jerawat. Tapi, You know what? Berbagai usaha dan obat tersebut hanya menghilangkan gejala luarnya aja. Mungkin jerawat akan terlihat mengering di permukaan namun begitu sedikit saja ada pemicunya, seperti debu, makanan dan stress atau kecapaian dikit aja, jerawat tersebut kembali muncul, dan Oh no! semakin banyak! Toloong!
Ternyata semua obat yang bersifat topikal tersebut tidak selamanya efektif, bahkan pada fase tertentu kulit seolah resisten terhadap obat tersebut yang menyebabkan jerawat yang timbul makin banyak. Akhirnya penulis menyadari, ini tidak bisa diobati hanya dari luar tapi harus dicari akar penyebabnya dan "membersihkan" tubuh dari dalam, bukan dengan obat-obatan tapi dengan cara yang simpel dan natural, detoksifikasi. Bakteri pencetus jerawat harus dibuat "kelaparan". Gula dan minyak adalah makanan favorit mereka!
Jika dicari arti dari detoksifikasi, bisa dicari di google begitu banyak web dan blog yang membahas arti detoksifikasi ini, mulai dari sudut pandang kedokteran hingga yang ngarang-ngarang sendiri,hehehe… But, intinya detoksifikasi tuh proses untuk mengeluarkan racun-racun dalam tubuh.
Yang dilakukan: Penulis melakukan detoksifikasi ini dengan hanya mengkonsumsi buah (hanya buah-buahan) dalam watu seminggu. Kenapa seminggu? Ini akan lebih efektif ketimbang kita detoks hanya satu hari atau senin-kamis karena kita akan makan berlebihan setelah detoks untuk "membalas dendam" keinginan yang gak kita dapatkan selama detoks. Kalu kita lakukan detoks selama seminggu (secara konsisten) sanggup membuat lidah kita peka terhadap makanan manis dan berminyak. Sehingga keadaan ini mampu membuat kita mengontrol makanan setelah detoks agar kita mengonsumsi makanan sehat dan tidak berlebihan (believe me, seminggu setelah detoks, sensor "cepat kenyang" akan bekerja lebih baik!)
Selama detoks, ini tidak dianjurkan untuk mengonsumsi makanan yang digoreng, mengandung pewarna, pengawet dan penyedap, minuman bersoda dan ber-cafein. Jadi semakin alami makanan yang kita makan, semakin baik. Untuk menghindari kebosanan, penulis mengkombinasikan berbagai macam buah mulai dari: apel, jeruk, semangka, melon, guava, belimbing, pir, alpukat,pisang dan strawberry.
Semua macam buah tersebut sudah mampu mengakomodasi kebutuhan harian kita seperti karbohidrat, lemak tak jenuh, air, vitamin A,C dan E (This is good for your skin,sis!). Jangan lupa minum air putih yang banyak untuk mengoptimalkan proses detoksifikasi. Oiya, Olahraga juga gak dilarang. Lakukan yang ringan aja agar tenaga tidak terkuras habis.
Results: Setelah seminggu mencoba detoks ini sudah bisa dilihat hasilnya: kulit jadi lebih cerah, jerawat mengering (dan hingga sekarang tidak muncul kembali), BAB lancar, badan jadi lebih enteng, dan o..oo.. Ukuran pinggang mengecil!!!
It’s wonderful isn’it? I got that bonus!! Efek lainnya, seperti yang sudah penulis bilang tadi, kita jadi lebih peka terhadap makanan manis dan berminyak, lidah kita sudah sedikit mentolerir rasa gorengan, makan sedikit pun bisa kenyang lebih lama. Keadaan ini membuat tidak ada lagi "pemicu" untuk jerawat datang kembali.
Detoks ini bisa diulang setiap bulannya. Why? Sis, kita bukan orang rumahan yang terus berdiam diri di rumah dan setiap saat melindungi kulit kita dengan payung atau kain setebal selimut. Kita akan terus terpapar polusi, makanan yang kita makan pun (kalo kita makan di luar) tidak bisa kita jamin kebersihan dan kesehatannya. That’s why, kita harus ulang lagi. Tapi jangan anggap ini sebagai beban, anggap ini sebagai langkah kita untuk sehat dan meringankan kerja hati dan ginjal kita agar tidak terlalu diforsir untuk memproses racun dalam tubuh. Mereka (organ tubuh kita) sudah melakukan yang terbaik untuk kita sehingga kita bisa berkaktivitas dengan lancar, jadi tidak ada salahnya kita beri mereka "hadiah" dengan mengistirahatkan mereka.
Setuju??
Sumber: pengalaman pribadi. =)
Gambar: google